WAROENG LEGENDA KAMPOENG KAPITAN
KAMPOENG KAPITAN
PALEMBANG
Tuesday, May 11, 2010
Friday, April 30, 2010
Sejarah Kampoeng Kapitan
Kampung Kapitan.
NAMA Kapitan identik dengan sebuah perkampungan
seluas lebih kurang 20 ha di kawasan Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan
Seberang Ulu I, Palembang. Nama ini menjadi semacam penanda bagi
keberadaan komunitas marga Tionghoa yang berdiam di kampung itu.
Pembatas
kampung, mulai dari tepi Sungai Musi di utara hingga ke tepian Jl
K.H.A. Azhary di bagian selatannya. Bagian barat berbatasan dengan
Sungai Kelenteng kini sudah mati dan timur dengan Sungai Kedemangan.
Jalan masuk ke Kampung Kapitan, demikian masyarakat Palembang
menyebutnya, sepanjang lebih kurang 50 meter. Saat memasuki kawasan
utama kampung ini, orang melewati semacam gerbang yang sesungguhnya
merupakan penghubung antara Rumah Kapitan dan Rumah Abu, yang merupakan
simbol kampung ini. Sebutan Rumah Abu ini, setelah berakhirnya masa
Kapitan Cina terakhir, Kapitan Tjoa Ham Hin.
Dia
menggantikan kedudukan ayahnya, Mayor Tjoa Tjie Kuan. Rumah Kapitan
berukuran asli 22 X 25 meter. Keturunan Kapitan, yang menjadi ahli
waris rumah itu, membuat bangunan tambahan di bagian belakang sehingga
ukuran panjangnya menjadi 50 meter. Di ruang utama, terdapat meja
sembahyang, yang ditempatkan beberapa pedupaan (tempat hio), dan patung
para Toa Pe Kong. Salah satunya, Toa Pe Kong Sie, yang merupakan
leluhur keluarga Tjoa. Leluhur Kapitan Tjoa, menurut semacam buku
harian milik keluarga ini, adalah Sie Te, yang datang ke Palembang pada
masa peralihan Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam,
yaitu antara abad XVI-XVIII
Kampung Kapitan
memang salah satu bangunan
peninggalan China. Namun, bukan ciri khas China yang melekat di sana,
melainkan perpaduan antara budaya Palembang, China, dan Belanda yang
terasa kental mewarnai kawasan yang terletak di pinggir Sungai Musi ini.
Menurut budayawan dan sejarawan Palembang, Djohan Hanafiah,
munculnya Kampung Kapitan berkaitan dengan runtuhnya Kerajaan Sriwijaya
pada abad XI dan munculnya Dinasti Ming di China pada abad XIV.
Sejak zaman Sriwijaya hingga kini,
Sungai Musi menjadi urat nadi jalur transportasi air untuk menggerakkan
perekonomian Kota Palembang dan sekitarnya. Alur mudik kapal, perahu,
getek, tongkang, tug boat maupun speed boat yang membawa hasil bumi,
dapat terlihat. Namun, di balik padatnya aktivitas di sungai yang
membelah Kota Palembang menjadi dua, yakni Seberang Ulu dan Ilir ini,
ada yang lebih menarik perhatian wisatawan, yaitu Kampung Kapitan.
Kampung Kapitan merupakan kelompok 15 bangunan rumah panggung ala China
yang terletak di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1. Kampung ini
pada awalnya merupakan tempat tinggal seorang perwira keturunan China
berpangkat kapitan (kapten) yang bekerja untuk pemerintah kolonial
Belanda.
Lahan di Seberang Ulu ini memang untuk para pendatang dari luar
Palembang. Uniknya, bentuk rumah mengadopsi bentuk rumah limas (rumah
tradisional Palembang) yang diperuntukkan bagi para bangsawan
Palembang. Namun, bentuk rumah juga mengadopsi tipologi rumah
masyarakat China dengan courtyard (ruang terbuka) pada bagian
tengahnya, yang berguna bagi penghawaan dan masuknya cahaya.
Tradisi juga masih nampak pada interior rumah yang dilengkapi dengan
meja altar pemujaan bagi leluhur. Perpaduan ini dapat dipahami, sebab
pada masa akhir pemerintahan Kesultanan Palembang, masyarakat Tionghoa
mulai membaur dengan masyarakat asli Palembang melalui perkawinan atau
memeluk agama Islam.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Tionghoa mengalami perubahan
dari masyarakat yang diawasi menjadi masyarakat yang mempunyai
kedudukan istimewa. Ini terlihat pada kolom penyangga pada bagian teras
depan yang pada rumah pertama berbahan kayu, berganti menjadi kolom
bata dengan gaya klasik eropa, walau dengan proporsi yang disesuaikan
dengan tampang bangunan.
Bangunan inti di Kampung Kapitan terdiri atas tiga rumah, merupakan
bangunan yang paling besar dan menghadap ke arah Sungai Musi. Rumah di
tengah paling sering difungsikan untuk menyelenggarakan pesta dan
tempat pertemuan, sementara kedua rumah di sisi timur dan barat untuk
rumah tinggal.
Dari arah darat, hanya ada satu jalan masuk ke Kampung Kapitan yang
berjarak sekitar 800 meter dari bawah Jembatan Ampera. Di jalan masuk
terdapat dua gerbang yang daun pintunya hilang. Tapi kini, keanggunan
Kampung Kapitan nyaris hilang. Hanya bangunan-bangunan kuno yang masih
tegak berdiri, meskipun banyak kerusakan kecil di berbagai sudut.
Selain itu, bagian bangunan yang terbuat dari kayu tampak kusam. Namun,
dinding kayu tidak rusak karena terbuat dari kayu unglen yang tahan
selama ratusan tahun. Di dalam rumah, meja abu dan altar sembahyang
yang dihiasi beberapa patung dewa, juga terlihat berdebu dan dikotori
sarang laba-laba. Hampir tidak ada lagi meja kursi atau lemari yang
dapat menggambarkan situasi masa lalu. Hanya ada beberapa foto kapitan
masih terpampang di ruang tamu rumah sebelah timur.
Taman bagian tengah kampung juga sudah berubah menjadi tanah lapang
yang tidak terurus. Dua patung singa, lambang rumah perwira China yang
dulu pernah menghiasi bagian depan rumah inti juga hilang. Menurut Tjoa
Kok Lim, Kampung Kapitan tidak terurus setelah ditinggalkan para
keturunan kapitan. Tjoa Kok Lim menjaga rumah itu karena keempat
saudara perempuannya mengikuti suami mereka ke luar Palembang.
Pudarnya ketenaran Kampung Kapitan juga membuat anak-anak Tjoa Kok Lim
memilih bekerja di Jakarta dan Lampung. Ia kini hanya ditemani seorang
anak perempuan untuk menjaga kedua rumah inti, setelah rumah ketiga
dijual kepada orang lain. Rumah-rumah kecil di Kampung Kapitan juga
sudah dikuasai para penghuninya, tidak lagi dalam kepemilikan keluarga
kapitan Tjoa Ham Hin.
Wednesday, March 10, 2010
Arti Persahabatan
Teman yang baik mengingat hari ulang tahun kita tapi lupa berapa umur kita…
Teman adalah keluarga yang kita pilih sendiri untuk diri kita.
Pertemanan itu seperti jika anda mengencingi diri anda sendiri. Semua orang bisa melihatnya, tapi hanya anda yang merasakan kehangatannya.
Friendship is like peeing on yourself: everyone can see it, but only you get the warm feeling that it brings.
Dan jika berkata, berkatalah kepada aku tentang kebenaran persahabatan?
Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya saat hati lapa dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian.Bila dia bicara, mengungkapkan pikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “ya”.
Dan bilamana ia diam, hatimu tiada ‘kan henti mencoba merangkum bahasa hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, janganlah berduka cita; Karena yang paling kaukasihi dalam dirinya, mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan. Karena kasih yang masih menyisakan pamrih, di luar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu hingga kau senantiasa mencarinya,
untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria berbagi kebahagiaan.
Karena dalam titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menemukan fajar jati dan gairah segar kehidupan.
Subscribe to:
Posts (Atom)




